Lambedower.com – Di balik hiruk-pikuk kasus narkoba yang menyeret nama Ammar Zoni, terselip cerita sunyi tentang pengorbanan dan keikhlasan. Sosok itu adalah dokter Kamelia—perempuan yang memilih berdiri di samping sang aktor saat banyak orang menjauh.
Awal 2025, ketika Ammar harus menjalani masa penahanan di Rutan Salemba, dokter Kamelia hadir bukan sekadar sebagai pendukung. Ia mengorbankan waktu, tenaga, bahkan materi demi memastikan Ammar tetap mendapat perhatian dan bantuan di tengah proses hukum yang berat.
Namun, kisah itu tak berakhir seperti yang dibayangkan.
Menjelang akhir proses persidangan, hubungan mereka justru kandas. Tanpa banyak penjelasan, Kamelia harus menerima kenyataan pahit: ia diputuskan. Lebih dari itu, ia bahkan diminta untuk tidak lagi berbicara tentang Ammar.
Alih-alih kecewa berlarut, Kamelia memilih jalan yang tak banyak orang tempuh—ikhlas.
Dengan nada tenang, ia menegaskan bahwa semua yang telah diberikannya bukan untuk ditukar dengan balasan. Baginya, kebaikan akan menemukan jalannya sendiri.
“Aku benar-benar ikhlas. Nggak minta dibalikin apa pun,” ungkapnya.
Keikhlasan itu terasa kontras dengan narasi yang berkembang di media sosial. Banyak netizen menilai Kamelia hanya dimanfaatkan, hadir di saat Ammar berada di titik terendah, lalu ditinggalkan ketika keadaan mulai membaik.
Kamelia tak membantah sepenuhnya. Ia bahkan mengakui kemungkinan itu. Tapi di tengah pengakuan tersebut, ia justru meminta satu hal yang tak terduga—agar publik tidak menghujat Ammar.
“Dia nggak salah apa-apa,” katanya, singkat.
Kini, setelah semua berlalu, Kamelia mencoba menata ulang hidupnya. Ia meminta agar Ammar maupun keluarganya tidak lagi mengusik kehidupannya. Bukan karena marah, melainkan karena ia ingin melangkah ke depan.
“Gue juga punya kehidupan lain… dan alhamdulillah bahagia,” ujarnya.
Di tengah kerasnya realitas, kisah ini bukan sekadar tentang putusnya hubungan. Ini tentang pilihan untuk tetap baik, bahkan ketika kebaikan itu tak kembali dalam bentuk yang sama.
Dan mungkin, di situlah letak keberanian terbesar: tetap ikhlas, saat hati pernah terluka. (*)












