Lambedower.com – Syuting film Tanah Dayak yang terinspirasi dari tragedi Sampit puluhan tahun silam mulai dilakukan di Kalteng. Salah satu lokasi pengambilan gambar berlangsung di Desa Kinipan, Kecamatan Batangkawa, Kabupaten Lamandau.
Desa ini terkenal karena letak geografisnya yang masih sangat asri dan teguh menjaga adat istiadat. Sempat santer terdengar pro kontra terkait pembuatan film yang kabarnya mengangkat kisah kelam tragedi Sampit 2001 silam ini. Namun sebagian besar masyarakat di Kabupaten Lamandau mendukung proses pembuatan film ini.
Film ini justru mengangkat dan memperkenalkan adat budaya masyarakat Dayak yang perlu dihormati dan dilestarikan.
Kekompakan masyarakat dalam mempertahankan adat dan budaya berbuah manis. Desa Kinipan, Kecamatan Batangkawa, Kabupaten Lamandau, terpiih jadi lokasi syuting film layar lebar “Tanah Dayak”
“Saya pribadi ikut berbangga, desa maupun kabupaten kita bisa semakin dikenal luas, “ungkap Bupati Lamandau, Rizky Aditya Putra dalam postingan medsosnya.
Hal senada diungkapkan, Kepala Desa Kinipan Willem Hengki, saat dikonfirmasi mengungkapkan bahwa warga Kinipan sangat menerima kehadiran crew syuting film “Tanah Dayak”.
“Kami bersyukur, dengan adanya syuting film ini, dapat mengangkat adat dan budaya, serta meramaikan lagi di media sosial tentang Desa Kinipan,” ungkapnya.
Terkait pemilihan Desa Kinipan menjadi lokasi syuting, menurutnya berdasarkan hasil pemilihan oleh sutradara. Karena sebelumnya ada beberapa desa lain yang disurvey, namun berdasarkan pertimbangan transportasi dan lain hal sehingga Kinipan akhirnya dipilih.
“Ada sebagian warga juga yang ikut menjadi pemain figuran. Meskipun bayarannya tidak besar, ya layak saja lah,” ungkap Willem.
Terkait jalan film nya secara keseluruhan ia mengaku tidak mengetahui. Namun sejauh ini dari syuting hari pertama maupun hari kedua tidak ada hal seperti yang dikhawatirkan orang-orang bahwa akan ada hal sensitif yang bisa memicu konflik.
“Ini selayaknya film horor fiksi yang ada di bioskop-bioskop. Tidak ada mengarah kesitu, ” cetus Willem.
Sejak awal pihaknya pun juga sudah berpesan kepada tim produksi, bahwa pihaknya tidak menginginkan jika film ini nantinya menyangkut SARA yang bisa menimbulkan kesialan di kemudian hari. Bahkan penggunaan atribut ormas tertentu juga dihindari.
“Intinya ini hanya film horor fiksi. Semoga bisa diterima masyarakat luas,” harap Willem.
Sebelumnya, Sutradara Film Tanah Dayak, Tarmizi Abka juga mengungkapkan, film ini tidak menyoroti konflik berdarah tragedi kerusuhan Sampit, melainkan sisi horor spiritual yang mengiringinya.
“Orang tahunya tragedi Sampit itu soal pembunuhan dan kekerasan. Tapi kita tidak ke situ. Kita fokus ke horor mistis di balik peristiwa itu. Kalau masuk ke daerah orang lain kan harus ada tatakrama, ada adat. Itu yang kita angkat. Peristiwa Sampit hanya sebagai latar,” ujarnya beberapa waktul lalu.
Selain pemeran asli Kalimantan, film ini juga akan melibatkan sejumlah aktor dan aktris dari Jakarta.Seperti Salsabila Zahra dan Mas Nizar. Ada juga influencer yang dilibatkan.
Sementara itu, mengenai gambaran film yang diproduseri oleh Andri Aan dan disutradarai oleh Tarmizi Abka ini bercerita tentang sejumlah wartawan yang datang ke pedalaman Dayak untuk meliput tragedi Sampit.
Namun, kedatangan mereka tanpa sikap hormat terhadap adat setempat justru menjadi awal petaka. Kamera dibawa, tetapi nilai-nilai lokal diabaikan.Larangan adat dilanggar, peringatan leluhur dianggap usang, hingga batas antara dunia manusia dan dunia spiritual perlahan terbuka.
Situasi itu pun memunculkan berbagai peristiwa ganjil dan teror mistis. Film Tanah Dayak tidak hanya menawarkan horor, tetapi juga pesan tentang adat yang dilanggar, tanah yang dilecehkan, serta arwah yang menuntut keseimbangan alam dan kehidupan.(mex)














