Lambedower.com – Aksi Ahmad Luthfi berangkat kerja dengan bersepeda kembali menyedot perhatian publik. Program yang digagas untuk mengampanyekan gaya hidup hemat energi justru memicu perbincangan lain, yakni sepeda listrik yang digunakan sang gubernur.
Kegiatan tersebut terekam dalam unggahan media sosial pada 12 April 2026. Dalam momen itu, Luthfi bersama jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) memulai perjalanan dari Masjid Raya Baiturrahman sebelum berkeliling melintasi sejumlah ruas jalan utama di Kota Semarang.
Rute yang dilalui cukup panjang, mulai dari kawasan Simpang Lima, Jalan Gajahmada, Jalan Imam Bonjol, Jalan Piere Tendean, Jalan Pemuda, Tugu Muda, Jalan Pandanaran, hingga kembali ke Simpang Lima dan berakhir di Kantor Gubernur Jawa Tengah.
Program “bike to work” ini disebut sebagai langkah nyata pemerintah daerah untuk mendorong budaya hemat energi di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan masyarakat.
“Berangkat kerja dengan menggunakan sepeda bertujuan untuk memberikan contoh kepada ASN maupun masyarakat agar hemat energi,” demikian keterangan dalam unggahan yang beredar.
Luthfi sendiri menekankan bahwa penghematan energi bisa dimulai dari hal sederhana, seperti bersepeda atau menggunakan transportasi umum dalam aktivitas sehari-hari.
Namun di balik pesan tersebut, perhatian warganet justru tertuju pada sepeda yang digunakan. Dari berbagai pengamatan yang beredar, sepeda itu diduga merupakan Specialized Turbo Levo, salah satu sepeda listrik premium di kelasnya.
Sepeda jenis e-MTB (Electric Mountain Bike) ini memiliki desain modern dengan sistem full-suspension, motor penggerak terintegrasi di rangka, serta baterai tersembunyi yang membuat tampilannya terlihat futuristik.
Selain itu, teknologi bantuan tenaga yang dimiliki sepeda ini memungkinkan pengendara tetap nyaman saat melintasi berbagai medan, termasuk jalanan perkotaan.
Soal harga, sepeda tersebut bukan produk biasa. Di pasar Indonesia, Specialized Turbo Levo diperkirakan dibanderol antara Rp130 juta hingga Rp190 juta, tergantung spesifikasi.
Tak heran, aksi gowes yang awalnya bertujuan mengampanyekan penghematan energi ini justru memicu pro dan kontra di media sosial. Sebagian warganet mengapresiasi langkah tersebut, namun tak sedikit pula yang menyoroti kesan kontras antara pesan kesederhanaan dengan fasilitas yang digunakan.
Fenomena ini kembali menunjukkan bahwa setiap langkah pejabat publik di ruang terbuka dapat memunculkan beragam persepsi, terlebih di era digital yang serba cepat dan penuh sorotan.














