Lambedower.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan bahwa Indonesia telah memperoleh pasokan minyak mentah atau crude dari Rusia.
Namun, ia menolak menyebutkan volume pembelian karena dilarang sebagaimana tertuang dalam kesepakatan antar dua negara.
“Volumenya saya nggak boleh, karena ada kesepakatan kami, kami nggak boleh berbicara tentang volumenya,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan Jakarta Pusat, dikutip Jumat (17/4).
Tak hanya enggan menyebut volume impor minyak mentah dari Rusia, Bahlil juga tak mau menyebutkan harga yang diperolehnya. Namun, ia memastikan terkait harga yang didapat adalah yang terbaik.
Dalam hal ini, ia memastikan, harga yang diperoleh berada di bawah harga pasar. Atau syukur-syukur memang sama dengan harga pasaran.
Terlebih, kata Bahlil, kerja sama yang dilakukan dengan Negara Beruang Merah itu berlaku untuk jangka panjang.
Tak hanya Goverment to Goverment (G to G), tetapi juga dilakukan secara Bussines to Bussines (B to B).
“Harga itu tetap kita akan mencari harga yang terbaik. Yang jelas kita akan mencoba untuk tidak boleh lebih daripada harga pasar. Harga di bawah pasar itu jauh lebih baik, tapi minimal sama dengan harga pasar,” beber Bahlil.
Sebelumnya, Bahlil menyampaikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa dari hasil pertemuan dengan Menteri ESDM dan utusan khusus Presiden Rusia, Indonesia diperkenankan membeli stok crude dari Negara Beruang Merah tersebut.
Tak hanya memperkenankan untuk membeli minyak, menurut Bahlil Rusia juga siap membangun beberapa infrastruktur yang penting untuk meningkatkan cadangan dan ketahanan energi nasional Indonesia.
Untuk diketahui, konsumsi BBM di tanah air dalam sehari mencapai 1,6 juta barel. Sedangkan, lifting Indonesia hanya kurang lebih sekitar 600-610 ribu barel per hari.
Itu sebabnya, Indonesia masih terus membutuhkan impor minyak mentah dari negara lain.
Di tengah situasi geopolitik yang terus memanas, Indonesia tak membuka ceruk impor dari satu negara, tetapi hampir di semua negara.
“Kita masih impor kurang lebih sekitar 1 juta barel per day. Di tengah kondisi global yang seperti ini kita harus mampu mencari cadangan-cadangan minyak dari berbagai sumber. Tidak hanya di satu negara tapi di hampir semua negara,” tukas Bahlil. (*)














